Tarian Sintren, Tetap Eksis Tak Lekang Oleh Waktu

INDONESIASATU.CO.ID:

emalang, - Kemajuan pertumbuhan peradaban di dunia ini sangatlah terasa. Baik itu di bidang komunikasi, pendidikan, fashion, hingga seni dan budaya. Alhasil, banyak yang tersingkir oleh perkembangn jaman tersebut. Tidak jauh berbeda dengan kesenian Sintren.

 
Ya, Sintren yang harus berjuang pantang menyerah ditengah semakin majunya jaman. Hal inilah yang terlihat di Desa Pegongsoran, Kecamatan Pemalang, Jawa Tengah.
 
Sebuah sanggar sintren yang digawangi oleh Ibu Cami ini, seakan tidak pantang menyerah melestarikan kebudayaan yang telah turun temurun menjadi andalan di desa tersebut. Bersama sekitar dua puluh rekannya, dia bahu membahu melestarikan dan menjaga dengan baik  kesenian Sintren ini.
 
Gamelan, gong, bunga setaman, kemenyan, serta pengeras suara pun selalu ikut ambil bagian setiap kali Sintren akan digelar. Tidak hanya itu, beberapa orang dipersiapkan untuk tampil sebagai penari atau yang biasa disebut “Badut Sintren”, Sinden Sintren yang selalu menjadi pengawal Sintren menari, serta sang pemain utama berparas cantik jelita sebagai Sintren.
 
“Iya, mas. Kami selalu berusaha melestarikan kesenian sintren ini turun temurun dari para pendahulu kita. Tidak hanya itu, sintren juga sebagai hiburan warga.”, terangnya,(31/10).
 
Cami menambahkan sanggar sintrennya ini berawal pada tahun 1972, hasil kesepkatan warga desa yang ingin menyelenggarakan Sintren. Alhasil, terbentuklah Sanggar Sintren Maharoni. Kala itu tampil di lapangan desa setempat dan berhasil menghibur para warga di desanya. Dia pun mengakui dari awal terbentuk tahun 1972 hingga 1978 sempat mengalami masa yang sulit ditengah mulai munculnya kebudayaan baru dan sempat terhenti beberapa tahun. Hingga pertengahan tahun 1978 Sanggar Maharoni berganti nama menjadi Sanggar Sintren Sekar Arum.
 
“Sanggar kami berdiri sejak tahun 1972, bernama Sanggar Sintren Maharoni dan tidak jarang ribuan orang menyaksikan saat pagelaran sintren. Namun, seiring bermunculnya kebudayaan baru, kami pun sempat terpuruk dan sempat vakum beberapa tahun hingga pertengahan tahun 1978. Pada tahun 1978 itulah kami mengganti nama sanggar menjadi Sanggar Sintren Sekar Arum.”, jelasnya sembari meneteskan air mata mengingat masa-masa itu.
 
Tidak hanya tampil dan dikenal diseputaran desa saja, Sanggar Sintren Sekar Arum pun telah melanglang buana dan berhasil memperkenalkan kesenian Sintren itu hingga ke seantero Kabupaten Pemalang. Hal ini juga yang menjadi alasan utama para punggawa Sintren untuk mengganti nama Sanggar Sintren Sekar Arum menjadi Sanggar Sintren Sekar Lulut sejak pertengahan tahun 2013 ini.
 
Sementara itu, menurut salah seorang warga Pegongsoran, Harya (26), yang sedang asyik menyaksikan pagelaran Sintren, mengatakan, kesenian Sintren merupakan kesenian yang harus dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa, serta sebagai salah satu warisan leluhur yang hingga sampai detik ini terus bersaing dengan tumbuhnya kebudayan modern. Sintren juga sebagai sarana mendidik para generasi muda agar selalu senantiasa menjaga kebudayaan. Serta sebagai sarana terbentuknya pendidikan karakter diri dan karakter bangsa.
 
“Sintren merupakan kesenian yang harus dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa, serta sebagai salah satu warisan leluhur yang hingga sampai detik ini terus bersaing dengan tumbuhnya kebudayan modern. Sintren juga sebagai sarana mendidik para generasi muda agar selalu senantiasa menjaga kebudayaan. Serta sebagai sarana terbentuknya pendidikan karakter diri dan karakter bangsa.”, katanya penuh semangat.
 
Terakhir, Cami berharap para generasi muda dapat menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah masing-masing, khususnya kesenian Sintren. Agar Sintren tidak punah dan selalu dikenal hingga manca negara.
 
Asal usul Sintren:
 
Kesenian Sintren itu sendiri berawal sejak masa Kerajaan Kalisabak, yang dipimpin oleh Raden Bahureksa. Ketika itu, Raden Bahureksa yang beristrikan Raden Rara Rantamsari, dikaruniai seorang putra yang bernama Raden Sulandono.
 
Raden Sulandono pun tumbuh menjadi seorang pangeran yang tampan dan baik budi pekertinya. Perilakunya yang sopan dan tidak membeda-bedakan teman pergaulan, menjadikannya memiliki banyak teman. Ia suka bergaul dengan rakyat biasa, dan berkunjung sampai ke desa-desa.
 
Hingga suatu saat Raden Sulandono bertemu dengan seorang gadis desa yang bernama Sulasih. Wanita cantik berbudi pekerti itu menjadi kembang desa kebanggan para pemuda. Pada akhirnya Raden Sulandono pun jatuh hati pada Sulasih.
 
Betapa gembiranya ketika Sulasih membalas cinta sang Raden, tanpa mempermasalahkan status mereka yang berbeda. Namun rupaya sang ayah, yakni Raden Bahureksa menghalangi cinta putranya. Ia beranggapan Sulasih tidak cocok untuk putranya. Walaupun terus dihalang-halangi ayahnya, hubungan cinta Raden Sulandono dan Sulasih terus berlanjut. Tak lama berselang, Raden Bahureksa meninggal dunia, disusul Rara Rantamsari.
 
Sebenarnya, banyak pemuda yang terpikat pada kecantikan Sulasih. Suatu waktu, Sulasih disembunyikan oleh para pemuda itu agar tidak dapat bertemu lagi dengan Raden Sulandono. Mengetahui kekasihnya disembunyikan, maka terjadi pertarungan antara Raden Sulandono dengan para pemuda desa tersebut. Dan karena dikeroyok, Raden Sulandono kalah. Namun sebelum celaka, Raden Sulandono diselamatkan oleh roh Roro Rantamsari yang kemudian memerintahkan Raden Sulandono untuk bertapa dan memberinya sehelai saputangan. Dia disarankan untuk menjadi penari pada upacara bersih desa yang akan datang.
 
Pada malam bulan purnama pada saat upacara bersih desa dimulai, melalui perantara Roro Rantamsari, roh bidadari didatangkan agar menyatu ke dalam tubuh Sulasih sehingga ia mampu menari di acara bersih desa. Roh Rantamsari kemudian mendatangi Raden Sulandono yang sedang bertapa agar segera bangun dan cepat-cepat mendatangi upacara bersih desa tersebut.
 
Dalam kesempatan itu Raden Sulandono melemparkan saputangan pemberian ibundanya, maka pingsanlah Sulasih yang sedang menari. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Raden Sulandono yang segera membawa lari Sulasih.
 
Sejak saat itu, bila suatu desa menyelenggarakan upacara bersih desa, maka akan disajikan tarian yang pernah ditarikan Sulasih, yaitu tarian para bidadari. Saat menari, seringkali penari seperti tak sadarkan diri karena dimasuki roh.
 
Tari ini untuk selanjutnya disebut Sintren, yang berasal dari kata si-putri-an atau si-putren, kemudian menjadi sintren, yaitu putri yang menari menirukan tarian para bidadari.
 
Sekarang ini, umumnya Sintren tidak lagi sebagai tari yang disajikan dalam upacara bersih desa, tetapi telah menjadi tontonan yang bersifat hiburan. (dentang)
  • Whatsapp

Index Berita