Kisah Pilu Nenek Sebatang Kara, Rumah Digusur Proyek New Kemukus Sragen

indonesiasatu, 11 Feb 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

SRAGEN - Baru sekitar 1 tahun, nenek Tutiah(79) merasakan kebahagian karena memiliki rumah yang layak huni. Nenek Tutiah dibuatkan rumah oleh orang-orang yang peduli terhadap kehidupannya, Selasa (11/2/2020).

Sebelumnya nenek Tutiah menempati rumah dengan ukuran 3 x 5 meter.Kondisi rumah sangat memprihatinkan,rumah tersebut hampir roboh.

Nenek Tutiah tinggal di Dusun Gunungsari Rt.33 Desa Pendem Kecamatan Sumberlawang kabupaten Sragen. Ia hidup sebatang kara,sudah tidak punya sanak saudara.
Untuk bertahan hidup ia harus membantu pekerjaan tetangga,seperti menyapu,mencuci maupun momong anak.

Tidak banyak,ia hanya mendapatkan penghasilan kisaran 10-15 ribu sehari.Cukup untuk ia gunakan membeli makan.

Keadaan yang saat itu sangat miris,membuat banyak kalangan merasa iba. Tergugahnya Hati Jajaran Koramil 017/Sumberlawang, Pemdes Pendem,warga gunungsari, PSHT Ranting Miri dan Sumberlawang serta beberapa donatur bergegas untuk gotongroyong sebisa mungkin agar rumah tersebut jadi layak huni.

Satu persatu bahan material bangunan dikumpulkan, dengan niat serta tekat yang kuat akhirnya semua bisa terpenuhi. Tepatnya 18 Desember 2018 pembangunan mulai dikerjakan, dalam jangka waktu 2 minggu rumah semi permanen berhasil berdiri tegak sesuai harapan.

Tangis harupun mewarnai simbolis penyerahan kunci rumah,nenek tutiah tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada semua pihak yang telah peduli kepadanya.

Serasa merasakan kebahagiaan sesaat, Nenek tutiah harus kembali merasakan derita yang cukup dalam,ia harus menerima kenyataan, rumah yang ia huni saat ini rencananya akan digusur oleh pihak berwajib,pasalnya rumah tersebut menempati tanah sabuk hijau (green belt) guna pembangunan Mega proyek New Kemukus yang diketahui bernilai anggaran dana senilai 80 miliar itu.

Nenek tutiah sudah pasrah,ia mengaku tidak tahu harus tinggal dimana,karena satu-satunya tempat yang bisa ia tempati ya hanya rumah itu.

"Menawi digusur,Kulo mboten ngertos bibar niku ajeng urip teng pundi mas (jika digusur, saya tidak tahu setelah itu akan hidup dimana mas)", terangnya kepada awak media.

Nenek tutiah menambahkan ia hanya berharap semoga ada pihak yang masih peduli padanya.Ia merasa tidak mempunyai daya untuk melakukan sesuatu dalam menyikapi hal ini.
Ia masih butuh makan untuk menyambung hidup,belum lagi akhir-akhir ini ia juga sering sakit dan membutuhkan obat.

Belum terfikirkan sama sekali nenek tutiah harus menghadapi semua itu dengan langkah yang bagaimana,yang jelas dengan kondisi yang akan ia hadapi besuk,ia mau tidak mau memang harus kehilangan tempat tinggal. Tidak ada lagi tempat untuk ia berteduh dari hujan dan panas,tidak akan ada lagi tempat untuk ia melepas lelah dimalam hari.

Menurut data yang dihimpun dilapangan ada sekitar 50 bangunan yang menempati tanah sabuk hijau.Bulan lalu warga telah diberikan peringatan pada bulan februari akhir semua bangunan harus sudah dibongkar bersih. (RT Sugiyanto)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu